Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Barat menggelar Konferensi Pers terkait kasus penyebaran video assusila bertempat di halaman Dirkrimsus Polda Jabar. Jum’at (20/9/2019).

Saat ini, Dirkrimsus Polda Jabar menetapkan oknum pegawai honorer berinisial RIA (31) yang berpropesi sebagai guru honorer di salah satu sekolah di daerah purwakarta menjadi tersangka.

Wakil Direktur Reskrimsus Polda Jawa Barat, AKBP Hari Brata mengatakan, bahwa video tersebut diduga dibuat di area parkir sebuah pusat perbelanjaan di Kabupaten Purwakarta. Saat itu, Tersangka RIA (31) bersama teman perempuannya berinisial RJ beristirahat kerja. Sedangkan status RJ Saat ini masih berstatus Saksi masih dalam penyidikan.

“Tersangka merekam video itu di dalam mobil sedan putih sekitar bulan Juni lalu,” kata Hari Brata.

Hari Brata menyebutkan, bahwa RIA dan RJ menjalin hubungan gelapnya selama satu tahun meski keduanya memiliki pasangan masing-masing. Keduanya merupakan pengajar honorer di Salah satu SMK di kabupaten Purwakarta.

“Motifnya, keduanya melakukan pacaran, karena dia diduga sudah berkeluarga, ini dilakukan karena cemburu, inisial RIA (31) hanya ingin minta hubungan balik lagi,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan keterangannya RJ tidak menyadari bahwa RIA merekam tindakan asusila tersebut. RJ hanya mengetahui ketika video tersebut tersebar di media sosial.

“RJ tidak sadar bahwa itu direkam, dia sadar setelah videonya itu tersebar”. katanya.

Tersangka RIA (31) mengaku khilaf saat menyebarkan video tersebut. Ia sakit hati lantaran RJ mengakhiri hubungan dengan dirinya.

“Karena sakit hati, dia mendadak meninggalkan saya”. kata RIA.

Adapun barang bukti yang diamankan diantaranya, 1 stel seragam ASN, 1 stel pakaian dalam wanita, 1 Unit Hp, 1 buah Micro SD, dan 1 Unit kendaraan R4.

Atas perbuatannya, Pelaku dijerat pasal 45 ayat (1) jo pasal 27 ayat (1) UU No. 19 tahun 2016 tentang perubahan terhadap UU No.11 tahun 2008 tentang ITE dan atau pasal 14 ayat (1) dan pasal 15 No. 1 tahjn 1946 tentang peraturan hukum pidana dengan ancaman hukuman 6 tahun dan denda paling banyak Rp. 2.000.000.000 (Dua Milyar Rupiah).

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *