Udara Kering dan Cuaca Ekstrem Picu Risiko ISPA pada Anak, Ini Langkah Pencegahannya

Musim kemarau yang membawa udara panas dan kering tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan saluran pernapasan, terutama pada anak-anak. Dokter Spesialis Anak Subspesialis Respirologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A., Subsp.Resp., mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap peningkatan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah cuaca ekstrem yang sedang berlangsung.

Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/8), Nastiti menjelaskan bahwa udara yang kering dapat membuat selaput lendir di saluran napas anak ikut kering. Padahal, lapisan ini berfungsi sebagai penyaring alami yang menahan masuknya bakteri, virus, dan polutan.

“Selaput lendir di saluran napas anak berfungsi untuk memfilter bahan-bahan yang masuk, termasuk bakteri, virus, dan polutan. Jika fungsinya berkurang karena kering, maka risiko terjadinya ISPA akan meningkat,” ujarnya.

Selain udara kering, rendahnya curah hujan membuat debu dan polutan lebih mudah beterbangan dan terhirup. Perbedaan suhu yang mencolok antara siang yang terik dan malam yang dingin juga disebut dapat menurunkan daya tahan tubuh anak. Kondisi ini sejalan dengan peringatan BMKG yang menyebutkan minimnya tutupan awan memicu suhu panas tinggi sekaligus penurunan kualitas udara akibat debu dan potensi asap kebakaran.

Untuk melindungi anak dari risiko ISPA, Nastiti menekankan pentingnya menjaga asupan cairan tubuh agar selaput lendir saluran napas tetap lembap dan berfungsi optimal. Ia juga menyarankan membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk serta menggunakan masker jika terpaksa keluar rumah. Asupan gizi yang seimbang, terutama makanan yang kaya vitamin A dan C, juga diperlukan untuk memperkuat daya tahan tubuh dan memperbaiki sel saluran napas. Selain itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan tangan dengan sabun, menerapkan etiket batuk yang benar, serta mengendalikan kualitas udara di dalam rumah dengan menghindari paparan asap rokok, asap masakan, dan pembakaran sampah di lingkungan sekitar.

“Kita harus menjaga udara yang bersih di dalam rumah. Hindari polusi yang bisa kita kendalikan sendiri, seperti asap rokok atau asap pembakaran sampah,” pungkas Nastiti yang juga anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia ini.

BAGIKAN:
Temukan berita dan informasi terkini dari Polda Jawa Barat di Google News.
Silakan klik tanda bintang untuk mengikuti.