Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Rudi Setiawan, menunjukkan ketangguhannya di kancah akademik dengan menjalani sidang disertasi di Universitas Airlangga, Senin (3/11). Disertasi fenomenologisnya yang berjudul “Cerita dari Mesuji: Studi Fenomenologi tentang Menjadi Polisi di Daerah Konflik” memaparkan pergulatan mendalam seorang polisi yang bertugas di wilayah penuh kekerasan dan konflik agraria.
Irjen Rudi Setiawan memaparkan di hadapan para penguji tentang menjadi polisi yang profesional dan berintegritas di wilayah di mana keberadaan aparat tidak pernah diterima sepenuhnya oleh masyarakat.
Menurut Irjen Rudi, Mesuji bukan sekadar lokasi geografis, melainkan “ruang eksistensial di mana konflik agraria, trauma sejarah, dan pergumulan identitas sosial bersinggungan dalam keseharian dengan polisi dan warga.”
Penelitian ini menggunakan kacamata fenomenologi Edmund Husserl, yang berusaha memahami pengalaman menjadi polisi (lifeworld atau lebenswelt) tanpa prasangka. Irjen Rudi menemukan bahwa dunia hidup polisi di Mesuji penuh paradoks.
“Dunia hidup polisi bukan semata dunia institusi, peraturan, atau hirarki. Mesuji adalah dunia konkret tempat mereka bangun pagi dengan kesadaran bahwa di luar pagar rumahnya, ada masyarakat yang mungkin melihatnya bukan sebagai pelindung, tapi sebagai bagian dari kekuasaan yang jauh, angkuh, berjarak,” jelasnya.
Disertasi tersebut menunjukkan bahwa polisi di Mesuji hidup di antara dua tarikan besar yakni Sebagai simbol negara dan penegak hukum. dan Sebagai individu yang bergulat dengan rasa sepi, terancam, keterbatasan sarana, dan dilema moral saat menghadapi masyarakat yang lebih percaya pada kekerasan daripada hukum.
Irjen Rudi menyimpulkan bahwa identitas personal polisi Mesuji terus berubah di tengah ambiguitas, “di antara panggilan moral dan tekanan struktural; di antara rasa ingin melayani dan rasa ditolak, tak dipercaya, dan tak berdaya.”
Identitas sosial polisi di sana pun ambivalen: kadang dilihat sebagai pelindung, kadang sebagai penjaga kepentingan entitas luar.
“Ketika seorang polisi berhadapan dengan seorang warga asli Mesuji Wong Tobo yang menggantungkan hidupnya pada sebidang tanah yang dianggap “milik negara”, dia sesungguhnya berhadapan dengan cermin dirinya sendiri. Dalam momen itu, dunia hidupnya menampakkan wajah paling jujur dari realitas sosial di Indonesia: ketimpangan, alienasi, dan pencarian rumit tentang legitimasi moral,” tutup Irjen Rudi, memberikan refleksi mendalam tentang Polri di daerah konflik.










