Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa lebih dari 4.700 tenaga kesehatan (nakes) relawan telah dikirim untuk membantu penanganan pascabencana di Sumatera. Para relawan ini berasal dari berbagai kalangan, termasuk Kementerian Kesehatan, perguruan tinggi, organisasi profesi, organisasi sosial, lembaga pemerintahan, rumah sakit, hingga organisasi internasional.
“Dan ini macam-macam, bukan hanya dari Kemenkes saja. Kemenkes sendiri mungkin sudah hampir 700 dari 4.700 ini. Tapi mulai dari perguruan tinggi, organisasi profesi, organisasi sosial, beberapa organisasi internasional, yaitu lembaga-lembaga pemerintahan, itu semuanya rumah sakit-rumah sakit, itu juga mengirimkan tenaga-tenaga relawan,” kata Menkes di Jakarta, Senin.
Menkes menjelaskan bahwa pihaknya mengkoordinasikan penempatan para relawan tersebut dan memprioritaskan untuk layanan kesehatan di desa-desa terisolasi serta di pos-pos pengungsian.
“Pos-pos pengungsiannya seribuan, data terakhir saya lihat, kalau desa terisolasi terakhir saya lihat seratusan, mungkin sekarang sudah turun,” kata Menkes.
Menkes menyoroti kondisi di Aceh, yang terkena dampak paling besar, memiliki banyak masalah, termasuk banyaknya rumah tenaga kesehatan yang rusak atau hilang. Para tenaga kesehatan yang kehilangan rumah itu, kata dia, masih pusing memikirkan kondisi tempat tinggal mereka, sehingga perlu untuk terus mengirimkan relawan dalam jumlah besar.
“Itu kan mereka rotasi sekitar dua minggu sekali, setiap minggu itu mungkin ada sekitar 700-800 sampai seribu lah mungkin yang ada di sana, ya. Dan itu kan mesti berputar terus,” kata Menkes.
Dalam kesempatan tersebut, Menkes juga menjelaskan tentang para relawan yang berangkat ke Aceh melalui Malaysia. Hal ini dikarenakan akses ke beberapa wilayah di Aceh, seperti Bener Meriah, Langkat, Tamiang, dan Aceh Tengah, lebih dekat dan lebih mudah melalui Medan.
“Khusus yang ke Medan karena masuknya itu kalau untuk yang misalnya Bener Meriah, Langkat, kemudian Tamiang. Itu yang Aceh Tengah, itu masuknya dari Medan itu lebih dekat, lebih mudah masuknya dibandingkan masuknya dari Banda Aceh,” kata Menkes Budi.
Menkes menjelaskan bahwa para relawan datang ke Medan pada saat akhir tahun, dimana banyak orang yang sedang liburan. Pemerintah memberikan diskon tarif tiket dan publik beramai-ramai membelinya, sehingga para relawan tidak kebagian tiket.
“Ini untuk para relawan-relawannya ada hanya tiket-tiket bisnis kelas yang mahal-mahal. Itu yang menyebabkan, jadi karena adanya banyaknya orang yang datang ke Medan pada saat Nataru itu terjadi,” kata Menkes.
Namun, Menkes memastikan bahwa kondisi saat ini sudah normal, dan para relawan bisa langsung terbang ke Medan untuk menjadi relawan.










