Indonesia terus memperkokoh peran strategisnya dalam peta meteorologi global melalui keterlibatan aktif di World Meteorological Organization (WMO). Sebagai negara kepulauan tropis yang memiliki kerentanan tinggi terhadap cuaca ekstrem, pemerintah Indonesia melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara konsisten mendorong transformasi sistem peringatan dini di tingkat internasional. Fokus utama dari langkah diplomatik ini adalah memastikan bahwa setiap informasi cuaca yang dihasilkan tidak hanya berhenti sebagai data teknis, tetapi mampu memicu tindakan cepat atau early action yang efektif untuk menyelamatkan nyawa dan harta benda masyarakat.
Dalam Kongres Luar Biasa WMO di Jenewa, Swiss, Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati menegaskan komitmen Indonesia dalam mengusung inisiatif Early Warning for All. Strategi ini menekankan pada penguatan empat pilar utama, yakni pemahaman risiko bencana yang mendalam, ketersediaan sistem pemantauan yang andal, penyampaian informasi yang jernih kepada publik, serta kesiapsiagaan masyarakat dalam bertindak. Pendekatan ini selaras dengan prioritas global WMO dalam program pengurangan risiko bencana melalui sistem peringatan dini multibahaya yang menjadi kunci perlindungan warga dunia.
Kepemimpinan Indonesia di sektor meteorologi juga semakin diakui secara internasional saat BMKG sukses menjadi tuan rumah sekaligus penggerak kebijakan dalam Forum Services Commission WMO (SERCOM-3) di Bali. Pertemuan strategis tersebut berhasil mengadopsi sejumlah kebijakan penting oleh 94 negara anggota, yang mencakup pengelolaan iklim global serta keberlanjutan sumber daya air. Langkah proaktif Indonesia ini mendapat apresiasi langsung dari Sekretaris Jenderal WMO sebagai bentuk nyata kontribusi negara dalam menghadapi kompleksitas krisis iklim global secara kolektif.
Guna mendukung komitmen internasional tersebut di tengah tantangan efisiensi, BMKG terus melakukan inovasi secara mandiri maupun melalui kolaborasi bilateral. Penggunaan teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), kini menjadi prioritas untuk meningkatkan akurasi prakiraan cuaca dan iklim nasional. Melalui penguatan kapasitas teknologi dan diplomasi meteorologi ini, Indonesia tidak hanya berperan sebagai penerima informasi cuaca global, tetapi juga sebagai penyedia solusi dan rujukan kebijakan bagi negara-negara lain dalam membangun ketahanan terhadap risiko iklim di masa depan.











Discussion about this post