Arus balik libur panjang Tahun Baru Imlek 2026 di kawasan Puncak-Cianjur mulai menunjukkan peningkatan volume kendaraan yang signifikan pada Selasa (17/2/2026). Guna menghindari kemacetan total, Satlantas Polres Cianjur memberlakukan rekayasa lalu lintas satu arah (one way) secara situasional.
Langkah ini diambil setelah tercatat adanya kenaikan jumlah kendaraan sekitar 20 persen dibandingkan hari biasa, yang didominasi oleh pelat nomor Jabodetabek.
Tradisi “Papajar” Berbaur dengan Arus Balik
Kasatlantas Polres Cianjur, AKP Aang Andi Suhandi, menjelaskan bahwa kepadatan kali ini memiliki karakteristik unik. Selain wisatawan yang pulang berlibur, arus lalu lintas juga diramaikan oleh warga lokal yang melakukan tradisi Papajar atau piknik bersama keluarga menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
“Kondisi saat ini normal lancar meski ada kenaikan volume kendaraan. Selain wisatawan asal luar kota, banyak juga wisatawan lokal yang hendak menggelar tradisi papajar,” ujar AKP Aang di Cianjur.
Antisipasi di Titik Rawas: Fokus Hanjawar hingga Cipanas
Meskipun tidak terjadi antrean yang mengular panjang, petugas mencatat adanya ketersendatan di beberapa titik krusial, seperti Pertigaan Hanjawar, Kawasan Cibodas serta Pasar Cipanas
Untuk mengatasinya, puluhan petugas pengurai disiagakan di sepanjang jalur Cipanas-Puncak. Sistem one way diterapkan pada pagi, siang, dan petang hari dengan berkoordinasi intensif bersama Polres Bogor agar pencairan arus berjalan sinkron.
Penerapan “One Way” Situasional
AKP Aang menegaskan bahwa pemberlakuan satu arah dilakukan secara fleksibel tergantung kondisi di lapangan. Jika ekor antrean kendaraan terpantau sudah melebihi dua kilometer, petugas akan segera mengambil langkah diskresi.
“Sifatnya situasional. Ketika terjadi antrean dengan ekor lebih dari dua kilometer, kami langsung menerapkan sistem satu arah untuk mencairkan kepadatan sehingga tidak terjadi macet total,” tegasnya.
Imbauan: Jangan Lambung Antrean!
Kepolisian mengingatkan para pengendara untuk tetap berada di jalurnya dan tidak melakukan aksi “melambung” atau keluar jalur saat terjadi ketersendatan. Aksi nekat tersebut dinilai sering menjadi penyebab utama terkuncinya arus lalu lintas di jalur Puncak yang sempit.
“Kami imbau pengendara mematuhi aturan lalu lintas dan mengikuti arahan petugas di lapangan agar tidak terjebak dalam antrean hingga berjam-jam,” tutup AKP Aang.











Discussion about this post