Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyatakan optimisme tinggi terhadap kemampuan industri furnitur nasional dalam menembus pasar global. Dengan nilai pasar furnitur dunia yang kini menyentuh angka 201 miliar dolar AS per tahun, Indonesia dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi pemain kunci di kancah internasional
Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menegaskan bahwa besarnya nilai pasar tersebut membuktikan sektor furnitur dan kerajinan adalah salah satu pilar manufaktur kreatif terbesar dalam perdagangan global.
Menurut Abdul Sobur, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki negara lain, yakni kekayaan bahan baku tropis dan desain berbasis kearifan lokal.
“Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah besar. Basis industri yang luas, kekayaan desain yang berakar pada budaya, serta meningkatnya kesadaran global terhadap produk berkelanjutan memberikan peluang bagi Indonesia untuk mempercepat pertumbuhan ekspor,” ujar Sobur dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).
Ia menambahkan bahwa produk Indonesia tidak sekadar menjual fungsi, tetapi juga membawa identitas budaya dan nilai estetika yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli mancanegara.
Meski memiliki potensi besar, Sobur mengakui bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal pangsa pasar. Saat ini, peta ekspor furnitur dunia masih didominasi oleh negara-negara besar:
- Tiongkok: 130 miliar dolar AS
- Vietnam: 21 miliar dolar AS
- Jerman: 18 miliar dolar AS
Sebagai perbandingan, nilai ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia tercatat sebesar 2,44 miliar dolar AS pada 2023, dan mencapai 2,37 miliar dolar AS hingga November 2024. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pemain kecil, namun memiliki ruang pertumbuhan (room for growth) yang sangat luas jika strategi pengembangan dilakukan secara tepat.
Salah satu strategi utama dalam memperkuat posisi Indonesia adalah melalui penyelenggaraan Indonesia International Furniture Expo (IFEX). Pameran yang berlangsung pada 5-8 Maret 2026 di ICE BSD, Tangerang ini, menjadi platform strategis untuk mempertemukan perajin lokal dengan pembeli internasional.
“Penyelenggaraan IFEX mencerminkan tingginya kepercayaan pasar internasional terhadap kemampuan Indonesia sebagai sumber penting furnitur dunia,” jelas Sobur.
Sejalan dengan visi HIMKI, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan Indonesia menjadi hub produksi manufaktur furnitur global melalui penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyampaikan bahwa industri furnitur adalah model hilirisasi krusial yang bersifat padat karya dan memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi ekonomi nasional.
“Sektor ini menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari 736,21 miliar dolar AS. Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memimpin dalam desain dan keberlanjutan,” kata Menperin.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sinyal positif bagi sektor manufaktur. Pada tahun 2025, pertumbuhan industri pengolahan tercatat sebesar 5,30%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11%.
Pencapaian ini merupakan momentum bersejarah, karena untuk pertama kalinya sejak tahun 2011, pertumbuhan industri kembali berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini diharapkan menjadi bahan bakar bagi industri mebel untuk berlari lebih kencang di tahun 2026 dan ke depannya.











Discussion about this post