Selama ini, demensia identik dengan gangguan kognitif yang menyerang individu berusia 65 tahun ke atas. Namun, fakta medis terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini bisa muncul jauh lebih awal. Sebuah studi komprehensif yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Neurology mengidentifikasi setidaknya 15 faktor risiko yang memicu munculnya demensia sebelum memasuki usia senja.
Memahami Perbedaan: Demensia Dini vs. Demensia Usia Muda
Penting bagi masyarakat untuk membedakan kedua istilah yang sering tertukar ini menurut klasifikasi Harvard Health Publishing:
- Demensia Dini (Early-stage Dementia): Merujuk pada tahap awal penyakit (gangguan kognitif ringan), terlepas dari berapa pun usia penderitanya.
- Demensia Usia Muda (Young-onset Dementia): Merujuk pada diagnosis demensia yang ditegakkan pada individu di bawah usia 65 tahun.
Temuan Riset: Dari Genetik hingga Gaya Hidup
Penelitian besar yang menganalisis data dari UK Biobank terhadap lebih dari 350.000 peserta mengungkapkan bahwa risiko demensia usia muda dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Berikut adalah beberapa faktor kunci yang ditemukan:
1. Faktor Biologis dan Medis
- Genetik (APOE ε4): Pembawa dua alel protein ini memiliki kemampuan yang rendah dalam membersihkan amiloid di otak, yang memicu penumpukan plak penyebab Alzheimer.
- Riwayat Penyakit: Stroke, penyakit jantung, dan diabetes (terutama pada pria) menjadi pemicu utama karena merusak pembuluh darah menuju otak.
- Gangguan Pendengaran: Kurangnya stimulasi suara ke otak terbukti meningkatkan risiko penurunan kognitif secara signifikan.
2. Gaya Hidup dan Lingkungan
- Penyalahgunaan Alkohol: Konsumsi berlebihan merusak lobus frontal otak yang mengatur fungsi eksekutif dan memori kerja.
- Isolasi Sosial: Kurangnya interaksi dengan orang lain membuat otak kurang terlatih dan lebih rentan mengalami atrofi.
- Defisiensi Nutrisi: Kekurangan Vitamin D dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi virus yang berhubungan dengan kerusakan saraf.
Langkah Pencegahan Sebelum Usia 65 Tahun
Meskipun faktor genetik sulit diubah, para peneliti menekankan bahwa mayoritas faktor risiko lainnya dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya hidup. Berikut adalah langkah preventif yang disarankan:
- Kendali Medis: Lakukan pemeriksaan rutin untuk memantau tekanan darah, gula darah (diabetes), dan kesehatan jantung.
- Kesehatan Sensorik: Jangan abaikan gangguan pendengaran. Penggunaan alat bantu dengar sejak dini dapat membantu menjaga stimulasi otak.
- Nutrisi dan Suplemen: Pastikan asupan Vitamin D tercukupi dan konsumsi makanan bergizi seimbang.
- Aktivitas Sosial dan Fisik: Rutin berolahraga dan tetap aktif bersosialisasi untuk menjaga plastisitas otak.
- Batasi Toksin: Hindari penyalahgunaan alkohol dan penggunaan narkoba yang merusak sel saraf secara permanen.
Catatan Penting: Menjaga kesehatan otak adalah investasi jangka panjang. Deteksi dini terhadap faktor-faktor di atas dapat memberikan kesempatan bagi individu untuk mempertahankan kualitas hidup lebih lama.











Discussion about this post