Kasus kanker usus besar atau kanker kolorektal kini semakin sering ditemukan pada kelompok usia muda, bahkan di rentang usia produktif. Jika dulu penyakit ini identik dengan lansia, tren saat ini menunjukkan kasus semakin banyak terjadi pada kelompok umur 20-30 tahun, dengan pola hidup kurang sehat menjadi salah satu pemicu utama.
Spesialis gizi Juwalita Surapsari menjelaskan bahwa rendahnya asupan serat dan vitamin dari makanan sehari-hari berperan besar dalam meningkatkan risiko penyakit ini. Menurutnya, buah dan sayur merupakan sumber nutrisi penting yang membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan dan mengurangi risiko terjadinya pertumbuhan sel abnormal di usus besar.
“Sekarang yang namanya serat makanan kalau tidak terpenuhi, risiko penyakitnya macam-macam, termasuk yang paling kita takutkan yaitu kanker usus besar,” beber dr. Juwalita. Ia menambahkan bahwa peningkatan kasus kini tidak hanya terjadi pada usia lanjut, melainkan juga mulai menjangkiti kelompok usia muda yang masih dalam masa produktif.
“Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena kasus yang kami temui bahkan ada pada usia 20-30 tahun. Padahal sebelumnya, kanker jenis ini lebih banyak ditemukan pada kelompok lansia,” sambungnya.
Lebih lanjut, dr. Juwalita menjelaskan bahwa salah satu kandungan penting dalam sayur dan buah adalah vitamin C, yang berperan sebagai antioksidan untuk melindungi tubuh dari berbagai penyakit sekaligus membantu penyerapan zat besi. Oleh karena itu, konsumsi makanan berserat tinggi menjadi kunci pencegahan sejak dini.
Namun, ia mengingatkan bahwa kebiasaan makan sehat tidak boleh dibangun melalui paksaan, karena tekanan sejak kecil dapat memicu trauma makan hingga dewasa. “Saya pernah menangani dua pasien usia 23 dan 27 tahun yang tidak bisa makan buah karena merasa jijik. Kondisi ini membuat mereka sulit memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan tubuh,” jelasnya.
Sementara itu, data awal hasil cek kesehatan gratis dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan lima provinsi dengan jumlah penduduk berisiko tinggi kanker usus terbanyak, yaitu Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dengan total mencapai sekitar 7,6 juta orang.
Kepala Tim Kerja Kesehatan dan Deteksi Dini Kemenkes RI, Rindu Rachmiati, menjelaskan bahwa kanker kolorektal merupakan keganasan yang berasal dari jaringan usus besar, yang dapat muncul di kolon (bagian terpanjang usus besar) maupun rektum (bagian sebelum anus). Mengutip data dari International Agency for Research on Cancer, Rindu menegaskan bahwa kanker kolorektal termasuk penyebab kematian akibat kanker tertinggi di Indonesia.
“Kanker kolorektal menjadi penyebab kematian kelima tertinggi di Indonesia. Angka kematian pada laki-laki dan perempuan tidak terlalu jauh berbeda, dengan insiden kasus prevalensi 12,1 dan angka kematian 6,6 per seribu penduduk,” jelasnya beberapa waktu lalu.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus melakukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat terkait pentingnya pola makan sehat dan deteksi dini untuk mengurangi risiko serta angka kematian akibat kanker kolorektal.











Discussion about this post