Pasca meninggalnya salah satu pasien superflu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah antisipasi serta pencegahan. Pencegahan dan antisipasi penularan influenza A H3N2 tidak jauh berbeda dengan pencegahan Covid-19. Kalangan lanjut usia, anak-anak, dan mereka yang memiliki penyakit komorbid menjadi kelompok yang paling rentan.
Ketua Tim Infeksi Khusus, Penyakit Infeksi Emerging dan Re-Emerging RSUP dr Hasan Sadikin Bandung, dr Yovita Hartantri, mengatakan bahwa karena penularannya melalui droplet, maka langkah pencegahan yang paling efektif adalah pencegahan 5M, sama seperti saat pandemi Covid-19. Yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, menjaga kesehatan diri dengan makan teratur, istirahat cukup, dan minum vitamin, serta mendapatkan vaksinasi, khususnya vaksinasi influenza. “Penggunaan masker kembali dianjurkan dalam kondisi tertentu, terutama bila sedang sakit flu ketika keluar rumah atau berada di tempat umum,” ucap Yovita, Minggu (11 Januari 2026).
Selain itu, masyarakat juga bisa mendapatkan vaksin influenza yang diketahui efektif melindungi dari H3N2. Vaksinasi membantu melindungi tubuh agar tidak terinfeksi, atau jika terinfeksi, maka manifestasi gejala influenza tidak menjadi berat. Dikatakan Yovita, masyarakat perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika memiliki penyakit komorbid atau merupakan populasi yang rentan terinfeksi influenza. Sebaiknya segera datang ke layanan kesehatan bila ada keluhan demam disertai batuk atau pilek, nyeri menelan, atau sesak nafas.
“Pesan saya agar masyarakat tidak panik namun tetap waspada. Lebih baik mencegah daripada mengobati, sehingga baiknya gunakan masker bila merasa tidak sehat, sering mencuci tangan, dan menjaga kesehatan pribadi. Bila termasuk kelompok rentan maka sebaiknya menjalani vaksinasi influenza. Dengan demikian kita akan terhindar dari penyakit influenza,” ucapnya.
Sebelumnya, Tim Infeksi Khusus, Penyakit Infeksi Emerging dan Re-Emerging RSUP dr Hasan Sadikin Bandung mengungkapkan satu orang dari sepuluh kasus virus influenza A H3N2 meninggal dunia. Diketahui, RSUP dr Hasan Sadikin telah merawat sepuluh pasien suspect virus influenza A H3N2 pada September-November 2025 lalu. Adapun rangkaian 10 kasus tersebut, yang pertama muncul 2 kasus di bulan September 2025, 6 kasus di bulan Oktober 2025, dan 2 kasus di bulan November 2025.
Yovita Hartantri mengatakan, dari 10 pasien, ada 2 pasien yang masuk rawat intensif, tetapi 1 pasien yang dirawat di ruang intensif meninggal dunia karena gagal nafas yang diakibatkan oleh infeksi bakteri, dengan adanya komorbid hipertensi, gagal jantung, dan stroke. “Selain infeksi virus influenza A H3N2, pasien juga mengalami infeksi bakteri yang berat yang mengakibatkan gagal ginjal, gangguan darah, dan gagal nafas,” ungkapnya. Yovita menegaskan dari jumlah 10 pasien, terdapat 1 pasien yang dirawat di ruang high care dan 1 di ruang intensif. Saat ini seluruh pasien sudah tidak ada yang dirawat.
Lebih lanjut, Yovita mengatakan bahwa Influenza A H3N2 merupakan infeksi virus influenza musiman yang muncul karena perubahan cuaca ekstrem. Dimulai pada Agustus hingga Oktober, dan mulai menurun kasusnya pada November hingga saat ini. Kepada pemerintah daerah, pihaknya berharap agar menginformasikan bahwa kasus influenza musiman meningkat pada perubahan iklim. Ketika perubahan iklim yang ekstrem datang, maka masyarakat perlu menjaga kesehatan diri untuk melakukan upaya-upaya pencegahan.










