Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin baru saja menyelesaikan kunjungan kerja penting ke Ankara, Turki, yang difokuskan pada penguatan kerja sama bilateral di bidang pertahanan. Kunjungan ini tidak hanya menjadi simbol eratnya hubungan antara Indonesia dan Turki, tetapi juga membuka peluang strategis bagi pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Didampingi oleh Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, Duta Besar RI untuk Turki Achmad Rizal Purnama, serta sejumlah pejabat tinggi Kementerian Pertahanan, Menhan Sjafrie melakukan serangkaian pertemuan penting dan peninjauan langsung ke fasilitas industri pertahanan terkemuka di Turki.
Agenda utama dalam kunjungan ini adalah pertemuan perdana format 2+2 antara Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Luar Negeri Sugiono dengan counterpart mereka, Menteri Pertahanan Turki Yasar Guler dan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan. Pertemuan ini menjadi platform penting untuk membahas berbagai isu strategis terkait keamanan regional dan global, serta merumuskan langkah-langkah konkret dalam meningkatkan kerja sama pertahanan kedua negara.
Salah satu momen penting dalam kunjungan ini adalah peninjauan Menhan Sjafrie ke kompleks industri pertahanan Aselsan, salah satu perusahaan pertahanan terbesar di Turki. Di sana, Menhan berkesempatan untuk melihat secara langsung berbagai produk unggulan Aselsan, mulai dari sistem anti-drone yang canggih, sistem pertahanan udara (hanud) modern, radar berteknologi tinggi, torpedo, hingga mock-up jet tempur KAAN yang menjadi kebanggaan industri dirgantara Turki. Dengan didampingi langsung oleh Menhan Turki Yasar Guler, Menhan Sjafrie dengan saksama memperhatikan setiap detail dari produk-produk tersebut, menunjukkan minat yang besar terhadap potensi kerja sama dalam pengembangan teknologi pertahanan.
Sebagai simbol eratnya hubungan dan apresiasi atas kunjungan tersebut, Menhan Turki Yasar Guler memberikan cenderamata istimewa kepada Menhan Sjafrie, yaitu sebuah helm pilot jet tempur generasi kelima KAAN. Helm karya Aselsan tersebut bahkan secara khusus diukir dengan nama “Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin” serta lambang bendera Turki dan Indonesia, menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga.
Salah satu poin penting yang mengemuka dalam kunjungan ini adalah terkait dengan pembelian 48 unit jet tempur KAAN oleh Indonesia. Muncul pertanyaan mengenai ketergantungan Indonesia pada persetujuan mesin dari Amerika Serikat untuk menerima pengiriman pesawat tersebut. Namun, Karo Infohan Setjen Kemenhan Brigjen Rico Ricardo Sirait menegaskan bahwa perjanjian ekspor final yang telah ditandatangani dengan Indonesia merencanakan pengiriman pesawat KAAN dengan menggunakan mesin TEI-TF35000 buatan Turki. Hal ini menunjukkan kemandirian Indonesia dalam pengadaan alutsista dan kepercayaan terhadap kemampuan industri pertahanan Turki.
Kunjungan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin ke Turki ini tidak hanya mempererat hubungan bilateral kedua negara, tetapi juga membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan kemampuan pertahanannya melalui kerja sama dengan industri pertahanan Turki yang semakin maju. Diharapkan, kerja sama ini dapat terus ditingkatkan di masa depan, tidak hanya dalam pengadaan alutsista, tetapi juga dalam transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penelitian dan pengembangan bersama di bidang pertahanan. Dengan demikian, Indonesia dapat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pertahanannya dan berkontribusi pada stabilitas keamanan regional.










