Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja resmi ke Washington DC, Amerika Serikat (AS), setelah lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma pada Senin (16/2) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Kepala negara didampingi oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dengan rombongan yang terbatas guna memastikan efisiensi dan fokus pada agenda kunjungan.
Dalam kunjungan kerja yang diperkirakan berlangsung selama tiga hari ini, Presiden Prabowo diagendakan melakukan pertemuan bilateral khusus dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih. Kedua kepala negara akan membahas sejumlah poin penting terkait penguatan hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat, serta kerja sama strategis di berbagai bidang prioritas yang menjadi perhatian kedua negara.
Menurut keterangan resmi dari Sekretariat Kabinet, pembahasan dalam pertemuan bilateral akan mencakup beberapa sektor kunci, antara lain kerja sama di bidang energi dan sumber daya mineral, kolaborasi dalam pengembangan teknologi hijau, penguatan keamanan maritim dan pertahanan regional, serta percepatan kerja sama ekonomi dan perdagangan. Selain itu, kedua pihak juga akan membahas isu-isu global terkini yang memengaruhi stabilitas kawasan dan dunia, seperti keberlanjutan lingkungan, penanggulangan perubahan iklim, serta pemberantasan terorisme dan kejahatan lintas batas.
Kunjungan ini menjadi bagian dari langkah aktif diplomasi Indonesia untuk memperkuat posisi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang. Sebelumnya, hubungan antara Indonesia dan AS telah menunjukkan perkembangan positif yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Juli 2025, kedua negara telah mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk memulai negosiasi perjanjian perdagangan timbal balik yang diharapkan dapat meningkatkan volume perdagangan dan investasi saling menguntungkan.
Selain itu, pada September 2025 silam, pemerintah AS juga telah memperpanjang kerangka kerja sama pembangunan bilateral dengan Indonesia hingga September 2026, dengan tambahan komitmen bantuan dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) senilai 150 juta dolar AS yang difokuskan pada pengembangan sektor kesehatan, pendidikan, dan ketahanan pangan di Indonesia. Pada periode yang sama, Presiden Prabowo juga telah melakukan kunjungan ke AS untuk menyampaikan pidato penting di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80, di mana ia mengusung agenda kerja sama global dalam menghadapi tantangan masa depan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia yang turut mendampingi menyampaikan bahwa kunjungan ini juga akan menjadi kesempatan untuk memperdalam kerja sama di bidang energi transisi, khususnya dalam pengembangan sumber energi terbarukan seperti energi panas bumi, tenaga surya, dan hidrogen hijau.
“Kita akan membahas potensi kolaborasi teknologi dan investasi di sektor energi yang ramah lingkungan, sekaligus memastikan keamanan pasokan energi bagi kedua negara,” ujarnya sebelum keberangkatan.
Sementara itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa kunjungan kerja Presiden Prabowo ke AS merupakan wujud komitmen pemerintah untuk menjaga dan memperkuat hubungan dengan negara-negara mitra utama.
“Kita berkomitmen untuk menjalankan diplomasi yang aktif dan konstruktif, dengan tetap memegang teguh kepentingan nasional dan kepemimpinan Indonesia dalam kawasan,” jelasnya.
Setelah pertemuan bilateral dengan Presiden Trump, Presiden Prabowo juga akan bertemu dengan sejumlah pemimpin bisnis dan investor Amerika Serikat untuk mendorong peningkatan investasi langsung asing ke Indonesia, khususnya di sektor-sektor yang menjadi prioritas pembangunan nasional. Kunjungan ini diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan konkret yang memberikan manfaat nyata bagi perkembangan ekonomi dan kemajuan bangsa Indonesia.











Discussion about this post