Di sebuah kampung di Sukabumi, suara palu dan gergaji terdengar bersahutan. Bukan proyek besar, melainkan pembangunan rumah sederhana yang penuh makna. Polres Sukabumi, lewat program Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni), membangun kembali lima rumah warga yang sebelumnya rusak dan tak layak huni.
Kapolres Sukabumi, AKBP Dr. Samian, menegaskan bahwa program ini adalah bentuk dukungan terhadap pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kami ingin masyarakat memiliki tempat tinggal yang layak. Jika rumah mereka rusak atau tidak layak, kami berusaha membantu memperbaikinya,” ujarnya.
Di Warudoyong, wajah Eneng Rohayati (61) tak bisa menyembunyikan rasa syukur. Rumah yang dulu rapuh kini berdiri lebih kokoh. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kapolres dan jajaran Polres Sukabumi. Rumah ini adalah berkah besar bagi saya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Hal serupa dirasakan oleh Iim Supratman (65) di Palabuhanratu. Ia menyampaikan doa agar kebaikan para polisi diterima oleh Yang Maha Kuasa. Baginya, rumah baru bukan sekadar tempat berteduh, melainkan simbol kepedulian yang nyata.
Program ini dilakukan serentak di beberapa lokasi, dan akan terus berlanjut. Bagi Polres Sukabumi, membangun rumah berarti membangun harapan. Bagi warga, rumah baru berarti kehidupan yang lebih aman, nyaman, dan penuh syukur.
Feature ini bukan hanya tentang pembangunan fisik. Ia adalah tentang jembatan antara aparat dan masyarakat, tentang bagaimana polisi hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penegak kemanusiaan. Lebih dari sekadar membangun rumah, Polres Sukabumi membangun kepercayaan dan mempererat tali persaudaraan dengan masyarakat.











Discussion about this post