Fenomena perpindahan kewarganegaraan warga negara Malaysia tengah menjadi sorotan tajam setelah data terbaru menunjukkan gelombang besar warga yang memilih menanggalkan status kewarganegaraannya. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, tercatat sebanyak 61.116 warga Malaysia resmi melepas kewarganegaraan mereka untuk beralih menjadi warga negara lain, dengan Singapura sebagai destinasi paling dominan.
Ketua Pengarah Jabatan Pendaftaran Negara (JPN) Malaysia, Datuk Badrul Hisham, mengungkapkan bahwa mayoritas pemohon atau sekitar 93,78 persen dari total jumlah tersebut memilih Singapura sebagai tanah air baru mereka. Angka ini terpaut sangat jauh jika dibandingkan dengan destinasi hijrah lainnya seperti Australia yang hanya diminati oleh 2,15 persen pemohon, dan Brunei Darussalam sebesar 0,97 persen.
Berdasarkan data statistik yang dihimpun hingga pertengahan Desember 2025, kaum perempuan tercatat sebagai kelompok pemohon terbanyak yang mengajukan pelepasan kewarganegaraan, yakni mencapai 35.356 jiwa. Secara rata-rata nasional, tren ini menunjukkan bahwa setiap tahunnya terdapat sekitar 10.000 warga Malaysia yang memutuskan untuk keluar dari status kewarganegaraannya demi menetap secara permanen di luar negeri.
Faktor ekonomi menjadi pendorong utama di balik keputusan besar puluhan ribu warga tersebut. Singapura dianggap memiliki daya tarik yang sangat kuat karena menawarkan peluang kerja dengan penghasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan di dalam negeri. Bagi warga Malaysia yang telah lama bekerja di Negeri Singapura, stabilitas ekonomi dan prospek karier yang lebih menjanjikan menjadi alasan realistis untuk memilih menetap secara permanen sebagai warga negara setempat.
Selain faktor pendapatan, kehidupan keluarga juga memegang peranan penting. Banyak dari pemohon memutuskan melepas kewarganegaraan untuk mengikuti pasangan mereka yang sudah lebih dulu menetap atau bekerja di luar negeri. Hal ini mencerminkan dinamika mobilitas penduduk yang tinggi di kawasan Asia Tenggara, di mana perbedaan standar hidup dan nilai tukar mata uang menjadi pertimbangan mendasar dalam menentukan masa depan.
Fenomena ini menjadi cermin nyata bagi otoritas terkait mengenai tantangan dalam mempertahankan talenta serta sumber daya manusia di dalam negeri. Daya tarik negara tetangga yang menawarkan kehidupan yang dianggap lebih mapan, baik dari sisi pekerjaan, penghasilan, maupun lingkungan keluarga, terus menjadi magnet yang memicu tren perpindahan kewarganegaraan ini tetap tinggi setiap tahunnya.










