Sebuah penelitian besar yang dimuat dalam British Journal of Sports Medicine (10/2/2026) membawa kabar baik bagi dunia kesehatan mental. Aktivitas fisik seperti lari, berenang, hingga menari kini direkomendasikan sebagai terapi lini depan untuk menangani gejala depresi ringan dan kecemasan, dengan efektivitas yang setara, bahkan dalam beberapa kasus lebih kuat dibanding pengobatan tradisional.
Penelitian komprehensif ini menganalisis 63 tinjauan ilmiah yang melibatkan hampir 80.000 partisipan dari berbagai belahan dunia. Hasilnya menunjukkan bahwa olahraga secara signifikan menurunkan gejala depresi dengan efek sedang, serta meredakan kecemasan dengan skala kecil hingga sedang.
Dampak Signifikan pada Dewasa Muda dan Ibu Baru
Temuan ini menyoroti bahwa manfaat terbesar dirasakan oleh kelompok dewasa muda usia 18–30 tahun dan perempuan pascapersalinan (ibu baru). Psikolog dari James Cook University Australia, Neil Munro, menyatakan bahwa bergerak dalam bentuk apa pun yang sesuai dengan preferensi individu dapat membantu meredakan gangguan mental pada kasus ringan.
“Olahraga dapat memberikan efek yang serupa, bahkan lebih kuat, dibanding pengobatan tradisional pada kasus ringan,” ujar Munro sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Jenis Olahraga dan Frekuensi yang Efektif
Data penelitian merinci bahwa tidak semua olahraga memberikan dampak yang sama terhadap kondisi psikologis tertentu:
- Depresi: Olahraga yang memacu detak jantung (cardio) seperti lari dan berenang menunjukkan dampak paling besar. Latihan kekuatan, yoga, dan tai chi juga bermanfaat, meski dengan efek yang sedikit lebih kecil.
- Kecemasan: Program dengan intensitas rendah yang dilakukan secara konsisten selama beberapa minggu justru menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan latihan berat.
Selain faktor biologis—di mana olahraga memicu pelepasan zat kimia otak untuk pengelolaan stres—unsur sosial juga memegang peranan kunci. Olahraga yang dilakukan secara berkelompok atau di bawah pengawasan terbukti lebih efektif dibanding olahraga sendirian.
Psikiater dari University College London, Profesor Michael Bloomfield, menjelaskan bahwa aktivitas kelompok seperti Zumba sangat membantu karena mengombinasikan aktivitas fisik dengan interaksi sosial, kesenangan, dan rutinitas.
Bukan Pengganti Medis untuk Kasus Berat
Meski temuan ini memberikan harapan baru, para ahli memberikan catatan penting bagi pasien dengan gejala sedang hingga berat. Profesor senior dari King’s College London, Dr. Brendon Stubbs, menegaskan bahwa olahraga harus dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganti psikoterapi atau obat-obatan yang telah diresepkan dokter.
“Untuk orang dengan gejala ringan, olahraga dapat dipertimbangkan sebagai terapi lini depan. Namun, pada depresi berat, aktivitas dasar sehari-hari saja bisa sangat sulit dilakukan, sehingga perawatan medis tetap menjadi keharusan,” tegas Stubbs.
Dengan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mencatat lebih dari 280 juta orang menderita depresi global, olahraga dinilai sebagai intervensi yang paling mudah diakses dan relatif murah. Para peneliti menyimpulkan bahwa menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian dari pedoman kesehatan mental nasional dapat menjadi solusi strategis di tengah meningkatnya angka gangguan kecemasan dunia











Discussion about this post