Kompetisi Liga 4 musim 2025/2026 tercoreng oleh serangkaian insiden serius yang melibatkan pelanggaran brutal dan mencederai pemain lawan. Dalam kurun waktu kurang dari tiga pekan, tiga pemain dari kasta terendah sepak bola profesional Indonesia ini dijatuhi sanksi larangan bermain seumur hidup akibat tindakan tidak sportif yang membahayakan.
Sanksi berat ini dijatuhkan kepada Muhammad Hilmi Gimnastiar (Putra Jaya Pasuruan), Dwi Pilihanto (KAFI FC), dan Raihan Alfariq (PSIR Rembang) atas aksi-aksi berbahaya yang mereka lakukan dalam pertandingan resmi.
Hukuman pertama datang dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI Asprov Jawa Timur. Pada 6 Januari 2026, Muhammad Hilmi Gimnastiar, pemain Putra Jaya Pasuruan, dijatuhi sanksi larangan beraktivitas di lingkungan sepak bola seumur hidup. Hilmi terbukti melakukan tindakan brutal dengan menendang dada pemain Perseta 1970 Tulungagung, Firman Nugraha Ardhiansyah, pada laga babak 32 besar Grup C Liga 4 Piala Gubernur Jawa Timur 2025/2026, 5 Januari lalu.
Aksi tidak terpuji Hilmi bahkan sampai mencuri perhatian media ternama Italia, Sport Mediaset. Video pelanggaran keras tersebut viral dan dipublikasikan oleh Sport Mediaset pada Kamis (8/1/2026), dengan narasi yang mengecam tindakan Hilmi sebagai perusak sportivitas sepak bola. “Pelanggaran terburuk dalam sejarah sepak bola berasal dari Indonesia,” tulis Sport Mediaset, menggambarkan betapa mengerikannya insiden tersebut. “Di Indonesia, pemain dari Perseta 1970 ini mengalami operasi terburuk dalam sejarah sepak bola, dengan tulang rusuk patah,” demikian keterangan dalam video yang diunggah.
Hanya berselang satu hari, kejadian serupa terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dwi Pilihanto, pemain KAFI FC, menerima hukuman larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup akibat pelanggaran kasar terhadap pemain UAD FC pada laga Liga 4 DIY, 6 Januari 2026. Panitia Disiplin PSSI Asprov DIY menilai tindakan Dwi Pilihanto yang menendang muka pemain lawan sebagai pelanggaran berat yang mencederai nilai-nilai sportivitas.
Teranyar, giliran Raihan Alfariq, kiper PSIR Rembang, yang dijatuhi sanksi serupa. Raihan dilarang bermain sepak bola seumur hidup akibat melakukan tendangan “kungfu” ke arah pemain Persikaba Blora, Rizal Dimas, dalam pertandingan Liga 4 Regional Jawa Tengah di Stadion Krida Rembang, Rabu (21/1/2026). Selain sanksi larangan bermain, Raihan juga didenda sebesar Rp5 juta atas tindakan berbahayanya tersebut.
Rentetan pelanggaran tidak pantas ini memicu keprihatinan dari berbagai pihak. Mantan pemain Arema Malang dan Persik Kediri, Aris Budi Sulistyo, menilai kejadian ini sebagai peringatan keras bagi sepak bola Indonesia. Menurutnya, sikap profesional dan sportif harus tertanam kuat dalam diri setiap atlet. Tindakan pelanggaran dengan unsur kesengajaan, apalagi sampai mengancam keselamatan pemain lain, adalah hal yang tidak dapat dibenarkan.
“Sangat miris melihat pemain-pemain kita di daerah, melakukan pelanggaran-pelanggaran dengan tidak terpuji seperti itu. Sangat membahayakan karier pemain,” ujar Aris Budi Sulistyo, Selasa (27/1/2026). “Ini pekerjaan rumah bagi insan sepak bola Indonesia, bahwa harus benar-benar dihindari hal semacam itu.” Ia menambahkan, “Bisa melalui instruksi pelatih, manajer yang positif untuk pemain agar menegakkan sportivitas. Kemudian wasit juga harus tegas dalam mengambil keputusan.”
PSSI diharapkan dapat mengambil tindakan tegas dan komprehensif untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan. Selain penegakan disiplin yang keras, edukasi tentang sportivitas dan fair play juga perlu ditingkatkan di semua level kompetisi. Keselamatan pemain harus menjadi prioritas utama dalam setiap pertandingan sepak bola.











Discussion about this post